Senin, 10 Agustus 2020 : 15:43:19 WITA

Artikel

Kurban, Ibadah dan Kepedulian Sosial

photo 2

Jakarta (26/9). Umat Islam di seluruh dunia pada 10 Dzulhijjah merayakan Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Peringatan Idul Adha dirayakan mayoritas umat Islam di seluruh Indonesia pada 24 September 2015 lalu. Selain sebagai ritual untuk mengenang keikhlasan dan ketaqwaan Nabi Ibrahim, Idul Adha juga sebagai puncak ibadah haji.

Pada peringatan Idul Adha kali ini, menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam di Indonesia. Pasalnya, krisis ekonomi global yang juga membelit Indonesia, mengakibatkan daya beli menurun. Hal itu, bisa mengakibatkan daya beli menurun, sekaligus berimbas kepada kuantitas hewan kurban yang mampu dibeli oleh masyarakat, “Ibadah kurban tak bisa dinilai dengan uang. Ini soal ketaqwaan dalam menjalankan ibadah,” papar Ketua Umum DPP LDII, Prof. DR. Ir. KH Abdullah Syam, M.Sc.

qurban 1

Ia menyitir sebuah sabda Rasulullah yang dinukil dari hadits Ibni Majjah dan Tirmidizi, “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada Hari Raya Kurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan kurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya pahalanya dicatat Allah sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”

Menurut Abdullah Syam, menyembelih kurban – sesuai hadist Rasulullah – pada 10 Dzulhijjah merupakan amalan yang paling disenangi Allah, yang hanya bisa ditandingi dengan seseorang yang menjual seluruh harta bendanya untuk membela agama Allah, lalu pulang tinggal nama, “Melihat berbagai keutamaan dan pahala berkurban, warga LDII menabung setahun sebelumnya. Agar bisa meraih pahala yang besar tanpa terhalang krisis,” papar Syam.

qurban 3

Dari perhitungan DPP LDII berdasarkan rekapitulasi hewan kurban yang diberikan oleh DPW LDII, pada 25 September 2015, pukul 22.00, jumlah sapi 16.192 ekor (naik 31 persen disbanding 2014), kambing atau domba mencapai 14.999 ekor (naik 34% dari 2014). “Jika asumsi harga seekor sapi rata-rata Rp 15 juta dan harga seekor kambing rata-rata Rp 2,5 juta, maka nilai ekonomi kurban warga LDII secara nasional setara Rp 280,3 miliar,” ujar Rully Bernaputera Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat DPP LDII, yang juga menjabat kepala kesekretariatan DPP LDII. Namun sekali lagi Rully menekankan, ini bukan soal jumlah, namun berlomba-lomba dalam mencari pahala dari Allah.

Di lain sisi, bagi DPP LDII, Hari Raya Kurban merupakan saat berbagi dan menjadi perekat bangsa, di mana semua orang menikmati daging sapi dan kambing yang tidak setiap hari dikonsumsi kebanyakan rakyat Indonesia, “Semua lapisan masyarakat dapat menikmati kebahagiaan dengan berbagi daging kurban, baik yang kaya maupun yang miskin,” ujar Abdullah Syam.

photo 1

Apalagi di tengah krisis ekonomi, yang mengakibatkan daya beli menurun, masyarakt bisa menikmati daging. Penyebaran daging kurban mengkibatkan masyarakat bisa menikmati makanan bergizi, di tengah melambungnya harga daging. Dengan demikian berkurban merupakan ibadah sekaligus wujud kepedulian sosial umat Islam.