Senin, 18 Juni 2018 : 17:28:58 WITA

Artikel

Sako SPN Bangun Karakter Santri Cilik Makassar

IMG-20140625-WA0008

MAKASSAR – Memanfaatkan waktu singgah di Kota Makassar saat Ekspedisi Bhakesra 2014, Tim Satuan Komunitas Sekawan Persada Nuantara (Sako SPN) mengajak santri cilik Makassar bermain.

Dunia anak yang masih gemar bermain membuat sistem pembelajaran di Taman Pendidikan Alquran Islam harus menarik dan menyenangkan. Untuk itu, mengajarkan nilai positif yang terkandung dalam Alquran dan Alhadist sudah sepatutnya dibuat sederhana seperti dalam bentuk permainan.

Serupa yang dilakukan Tim Sako SPN di Masjid Raudhotul Jannah, Makassar Selasa (24/6) lalu. Sumantri dan kawan-kawan mencoba mengajak para pengajar beserta santri binaannya keluar dari masjd yang biasa dipergunakan untuk mengaji dan beralih mengaji di lapangan terbuka.

IMG-20140625-WA0006

Di mulai permainan dengan membaca basmallah, anak-anak diajak untuk mendahuli sesuatu dengan mengingat Allah. Selanjutnya anak-anak tersebut diajarkan untuk tertib dan bertenggang rasa kepada sesama lewat proses pembentukan barisan. Meskipun semua santri cilik ini terlihat kesulitan karena tidak terbiasa, namun akhirnya barisan sesuai putra dan putri dapat terbentuk dengan baik.

Tidak cukup sampai di situ, selanjutnya anak-anak yang telah mengenakan peci dan kerudung lengkap untuk mengaji ini dibagi dalan dua kelompok usia. Usia Pra Sekolah hingga kelas 2 SD dipandu oleh Thoyib Januardi, sedangkan usia kelas 3 SD ke atas dipandu oleh Sumantri dan Ikhwan. Setelah terbagi dua kelompok, selanjutnya lewat berbagai permainan edukasi sederhana anak-anak diajarkan berbudi pekerti yang baik.

Freez in potition (membeku pada posisi) salah satunya. Permainan tersebut membagi anak-anak yang dipandu Thoyib kedalam beberapa kelompok kecil yang ditugaskan membentuk suatu bentuk atau posisi. Uniknya dalam permainan ini hanya satu orang peserta yang boleh bergerak dan memimpin kelompoknya. Peserta lainnya hanya mengikuti arahan yang diberikan pemimpin kelompok. Lewat permainan ini anak-anak diajarkan untuk menjadi pemimpin, mendengarkan perintah, analisis masalah, dan kerja sama kelompok.

IMG-20140625-WA0010

Di permainan kedua, Thoyib memerintahkan anak-anak tersebut memindahkan air gelas mineral di atas sebuah sarung dari satu posisi ke posisi lain tanpa terjatuh. Lewat permainan kedua ini, Thoyib mengajak anak-anak untuk belajar analisis masalah, saling mengargai, toleransi, kompak, dan tidak egois.

Selain kedua permainan di atas masih banyak permainan yang dimainkan Sako SPN seperti stepping carpet, estafet karet, estafet air, opposite, tepuk kompak, dan lain sebagiannya. Meskipun permainan tersebut terlihat sederhana akan tetapi Sumantri menilai permainan tersebut dapat lebih menyentuk pendidikan lewat ranah afeksi dan psikomotorik anak.

Karena menurut Sumantri lewat permainan ini anak diajak untuk merasakan dan membayangkan langsung masalah yang terjadi dalam kehidupan, sehingga arahan yang diberikan dapat langsung terpraktikan. aktivitas luar ruangan seperti ini juga dinilainnya dapat meningkatkan kemampuan motorik anak lewat aktivitas gerak.

Wiwik Umi Pratiwi salah satu pengajar di Masjid Raudhatul Jannah ini juga merasa terkesan dengan permainan yang diberikan. Pengurus DPD LDII Kota Makassar Bidang Pemberdayaan Wanita dan Keputrian ini menganggap pengetahuan metode pembelajaran seperti ini sangat dibutuhkan kelompoknya. Menurutnya kegiatan praktek langsung yang dilakukukan tersebut lebih mudah dipelajari oleh santrinya ketimbang teori dalam kelas.

IMG-20140625-WA0007

“Saya sangat senang melihat anak-anak itu bisa belajar leadership, kemandirian, ketaatan, kerukunan, dan masih banyak lagi itu yang dapat saya lihat. Selain itu anak-anak juga terlihat senang sekali mengikuti permainannya,” ujar Wiwik bersemangat kepada Lines.

Wiwik berharap pelatihan seperti ini untuk staf pengajar dapat diadakan lagi di lokasinya. “Kita jadi tergugah untuk melakukan tindak lanjut dan minta diajarkan teorinya,” kata Wiwik. Dirinya mengakui pelatihan semacam ini masih sangat jarang diadakan. Selama ini menurutnya pelatihan pengajar hanya lebih banyak membahas kurikulum dan materi ajar saja, namun masih kurang menyetuh ranah teknis seperti ini.

Tidak hanya pengajar santri tersebut saja yangg senang, para orang tua wali santri dan penduduk sekitar juga merasa terhibur melihat permainan yang diberikan untuk anak-anak mereka. Mereka menilai metode pembelajaran seperti ini perlu dilakukan agar membuat anak senang. (Bahrun/Lines)